“ Rin!!!! Buruan!!! ”
“ Iya bentar, ah! Lagian ngebet amat sih jam segini uda mau berangkat…”
“ Gila lo ???!!! jam segini? Liat nih! Uda jam tujuh lebih lima lima belas ! Ayo buruan!!!” perintah Naura di sebelahku sambil menunjukkan jam yang melekat manis di tangan kirinya. Dan ternyata jamnya memang sudah mepet!
“ Bi!!! Kita berangkat ya!!!” teriakku seraya menancapkan gas mobil yang biasa kupakai ke sekolah bersama teman sedari kecilku, Naura. Entah kami memang jodoh atau... entahlah! Percaya atau tidak, semenjak kelas 5 SD aku dengan si bawel ini sekelas terus. Namun, kami menjadi sedekat ini semenjak 1 SMP. Kerendahan hati membuatku betah berteman selama bertahun-tahun dengannya. Harta yang melimpah di depan mata, tidak lantas membuatnya sombong, seperti kebanyakan anak remaja lainnya. Apalagi dengan hidup di kota sebesar ini.
“ Sialan!!!”pekik Naura tiba-tiba. Untung saja aku tak punya penyakit kronis seperti jantung. Kalau iya, mungkin sekarang aku sudah wassalam.
“ Heh! Sialan lo!” balasku tak mau kalah.
“ Ha???” wah gawat. Budeknya kumat.
“ Gue bilang sialan lo!”
“ Lho? Kok gue yang sialan?” tanyanya kebingungan. Kadangkala melihat raut muka sahabatku ini rasanya ingin ngakak habis-habisan.
“ Gue nanya balik. Kenapa lo tiba-tiba triak gak jelas gitu?”
“ Ini nih, liat! Jam Gucci baru….!!! Gak tahan gue.” kulirik sesaat catalog yang dipegangnya. Wah, iya. Memang manis dilihat. Apalagi kalau dipakai di kulit yang bersinar seperti yang dimiliki oleh Naura.
“Yaudah pesen aja langsung. Anak kelas lain kan banyak yang jadi member, kan? Di sana aja. Biar mesennya gak ribet.”
“ Alah… jauh-jauh amat. Tante gue agen langsung kaleee. Jadi kalo langsung mesen dapet diskon juga deeh. Hahaha…” tawanya puas. Tuh, kan. Kubilang juga apa. Walau ayahnya mempunyai restoran yang membuka cabang di kota-kota besar, jalan pikiran Naura sama seperti remaja-remaja lain yang kehidupannya sederhana. Dari situlah juga aku sering belajar banyak darinya.
☺☺☺☺☺
Bel pertanda istirahat pertama telah berdering 5 menit yang lalu. Kantin? Enggak usah ditanya deh! Seperti pasar yang biasa Bi Isah datangi untuk belanja keperluan sehari-hari, tapi ini bedanya pasar versi bersih. Seperti mall. Sekolahku memang bisa dibilang sekolah elite, tidak memungkiri karena ayahku yang merupakan pejabat setempat. Eittsss! Jangan salah kaprah dulu setelah mendengar pekerjaan ayahku, ya. Ayahku pejabat bersih kok. Hehe. Sekarang aku tengah sibuk mencari si bawel itu. Ternyata siapa yang kucari tak sejalan dengan siapa yang kutemukan.
“Cewek…” godanya. Anak ini, kebiasaan sekali deh. Enggak tau situasi apa ya. udah tau rame kayakgini sempet-sempetnya juga godain pacar sendiri.
“ Kamu ya! enggak liat rame begini? Pake senyum-senyum segala lagi…” enggak muna’ juga. Aku pun senyum-senyum di dalam hati melihat lesung pipit yang menghiasi wajahnya yang ‘wow’ itu. Tapi boro-boro senyum deh! Sumpek-sumpek gini ngobrol aja rasanya aku malas.
“Hei, hei… santai dong… emang kamu nyari siapa sih? Kok celingukan gitu?” tanyanya santai sambil merangkulku. Dan mengikuti arah mataku.
“Liat si bawel?”
“Eh? Di mana, ya?? Aku tadi liat kok. Ah! Itu dia!” si cakep ini langsung menunjuk ke arah stand bakso di seberang sana. Wah, anak itu rela banget ngantre demi bakso. Tumben.
“Naura!!!” satu kali. Teriakanku tidak didengar. “NAURA!!!” dua kali. Dengan nada yang sudah kunaikkan dua oktaf. Yang dipanggil tidak ada reksi. “NAU…”
“NAURA!!!!!!!!” teriak cowok yang merangkulku ini. Sontak membuat beberapa-atau bahkan hampir semua- siswa menoleh ke arah kami berdua. Bikin malu aja ni anak. Mana rasanya kupingku mau copot deh.
“Aduhhh!!! Kamu kebiasaan deh! Enggak liat apa aku ada di sebelahmu ?! Tau deh yang ketua OSIS.” bentakku halus padanya sambil menormalkan kembali alat pendengaranku. Teriakannya benar-benar dahsyat nih anak.
“Habisnyaa… kamu teriak kayak gitu. Ya pantes gak kedengeran laah. Apalagi yang kamu teriakin Naura. Dia yang suasananya sepi kayak kubuaran aja belum tentu denger, apalagi yang ramenya kayak gini.” Bener-bener deh. Anak ini keterlaluan.
“Cieeee… yang lagi berduaan… kir kir! Hahahahaha!!!!!” tiba-tiba saja si bawel sudah di samping kami sambil membawa nampan dengan semangkok bakso dengan sambal yang terlihat di permukaan mangkoknya. Wow, si bawel ini kenal penyakit usus buntu enggak, sih ? makan sambel enggak nanggung-nanggung gitu.
“Heh, daripada lo berdua ngeroman gitu, mending lo cari tempat duduk, deh! Gak tau situasi ni orang dua. Udah tau rame masiiiiiii aja pacaran. Cepet!” omg. Bawelnya kumat deh. Karena sudah tidak tahan dengan omelannya kutoyor dia. Tampangnya kocak abis! Karena kepanasan kuputuskan untuk memesan minum. Dan perintah si bawel untuk mencari tempat kualihkan kembali padanya dan si cakep.
“Lo mau minum enggak?” kutawarkan untuk memesan minuman pada si bawel, karena kulihat di nampannya tidak ada yang bisa di minum, kecuali kuah bakso.yang ditawari mengangguk. Kutawarkan pula pada si cakep, dan jawabannya sama dengan si bawel. Tak lama pesananku sudah siap. 2 gelas es jeruk dan 1 gelas es teh. Untuk beberapa saat aku kebingungan mencari tempat mereka duduk. Namun tingginya si cakep dan bando yang dipakai si bawel membuatku mudah menemukan mereka berdua. Beberapa langkah sebelum aku sampai di tempat mereka, sesaat aku melihat mereka berdua di satu tempat seperti sekarang. Betapa cocoknya mereka berdua di mataku. Dulu saat aku didekati oleh si cakep kukira dia hanya mendekatiku karena aku sahabat Naura. Ternyata, dia benar-benar berniat mendekatiku. Aku juga tidak habis pikir apa yang dipikirkan oleh si cakep untuk menjadi kekasihku saat ini. Karena kalau dipikir-pikir Naura banyak kelebihan daripada aku. Labih cantik iya, lebih cewek iya, lebih pintar ngomong iya. Tapi saat kutanya pada si cakep saat dia nembak aku, dia menjawab, “karena jarang ada cewek se-apa adanya kamu, Rini… kamu enggak pernah jaim kalau di hadapan semua orang…” aku langsung teringat saat aku tertawa terbahak-bahak di depan umum saat menghadiri pesta ulang tahun sweet 17 temanku.
Saat aku menaruh nampan di meja kami, seseorang di atas skateboardnya dari arah barat tiba-tiba menabrakku. Lumayan keras, karena dia mungkin tidak melihatku dan dia rasanya memang melaju kencang dengan skateboardnya.
“Aduh….” seketika aku melihat lututku berdarah karena tergores besi roda skateboard cowok satu ini. Hei, rasanya aku kenal cowok ini. Tapi siapa ya? Ah! Iya… Dia kan Armand. Temen satu ekskul dulu.
“Astaga… sory. Gue buru-buru. Sory, gue bener-bener gak liat lo. Lo gak apa kan, Rin?” pintanya tulus. Wah, kalau aja gue enggak kenal dia, udah gue libas abis-abisan ni cowok. Tapi rasanya dia bener-bener enggak sengaja deh.
“Iya… gak papa kok. Lain kali hati-hati dong naik skateboardnya.” jawabku sambil tersenyum. Dia langsung membantuku bangun, namun dengan secepat kilat Levi memapahku ke tempat duduk di sampingnya, lalu berniat menegur Armand. Tapi aku langsung menarik tangannya, lalu mengisyaratkan untuk mengurungkan niatnya. Dan levi menegur Armand dengan tatapan yang tidak biasa, “Eh, lo jalan itu ati-ati dong! Liat-liat kek kalo mau jalan! Seenaknya aja kalo jalan, lo kira ini jalan punya lo apa?!”
“Eh, Lev. Gue kan udah minta maaf sama cewek lo. Cewek lo aja udah biasa, ngapain lo yang sewot?” Armand gak mau kalah.
“Lo ngelunjak ya kalo dibilangin….”
“Ya ampun! Udah deh ! Gue gak papa juga. Levi udah deh. Aku gak papa kok.” Aku masih memegangi tangan Levi karena aku tahu Levi sangat keras emosinya. Lalu Armand pergi dengan skateboardnya, tapi tidak sekencang tadi. Setelah aku membalas senyumnya.
“Udah deh! Gak usah pake senyum-senyum sama dia kenapa sih?” kata Levi, yang terdengar agak kasar di telingaku.
“Ya ampun Levi. Masa’ aku cuma diem aja kalo ada yang senyumin aku? Kan gak sopan!” mulai deh. Pertengkaran kecil antara aku dengannya. Kulirik Naura sekilas, dan langsung bersiap-siap untuk pergi sebelum ia berkata, “bayarin minum gue, bowk! Gue ke kelas duluan ya! gue ada pr.” Halah! Alasan aja mau kabur. Sok-sok mau ngerjain pr pula.
“Iya pokoknya jangan deket-deket sama dia deh!”
“Loh? Kok sekarang kamu ngelarang-ngelarang aku bertemen sih? Kamu kan tau kalo aku engga suka dilarang-larang kaya’ gini!”
“Ya maksudku kamu boleh deket sama siapa aja, Rini… tapi jangan sama sia deh…” nadanya mulai melemah. Tapi aku tetap penasaran.
“Oh, gitu? Sekarang kasi aku alasan kenapa ku gak boleh deket-deket sama Armand!”
“Aku enggak bisa jelasin! Pokoknya….” TEEEETTTT!!!! Bel tanda masuk berbunyi, membuat kalimat Levi menggantung dan aku langsung meninggalkannya ke kelas setelah aku membayar pesananku tadi.
“Rini! TUNGGU!!”
☺☺☺☺☺
Sepulang sekolah, aku menuju UKS ditemani Naura. aku baru ingat kalau lututku cedera kareda insiden tadi di kantin. Kalau tidak segera ditutup, nanti lukanya bertambah parah. Begitu nasihat cewek yang sedang asyik sms-an di sampingku ini ketika di kelas tadi.
“Siang, mbaak…” UKS terlhat sepi. Sepertinya perawat di UKS sudah pulang. Naura berinisiatif untuk mengambil alcohol, perban dan kapas. Wah, baik juga ni anak. Dengan cekatan Naura membersihkan dan menutup lukaku dengan perban dan kapas. Ringtone HP Naura memecahkan keheningan. Segera Naura memberiku semua yang ada di tangannya, mengisyaratkanku untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Halo?
Kenapa, Ma?
Naura masih di sekolah…
Lho?
Sekarang?
Kok buru-buru?
Di depan sekolah???!!
Mama ah! Kebiasaan deh..
Yauda Naura sekarang ke sana.” Klik. Naura mematikan hp dengan raut wajah yang ditekuk.
“Mama gue kebiasaan deh. Apa-apa gak ada persetujuan dulu. Langsung aja. Gue duluan, Rin. Lo gak papa, kan? Gue jadi gak enak nih ninggalin lo.”
“Gak papa … duluan aja gue cuma kayak gini kok. Mama lho di depan sekolah kan?”
“Iya. Kok lo tau?” tanyanya polos. Naura… Naura…
“Dikira gue budeg apa. Lo nyerocos tadi enggak inget gue masih di sini??” mendengar jawabanku, dia tertawa. Lalu pergi meninggalkanku. Nah, perbannya tinggal ditutup dan… selesai. Aku langsung keluar dari UKS dan menuju ke parkiran sekolah. Setelah diberi alkohol, lukaku agak perih dan membuat jalanku tertatih-tatih seperti ini. Mau tidak mau, aku harus melewati lapangan basket karena akses menuju parkiran hanya 1 jalan, melewati lapangan basket. Aku melihat Levi dan satu timnya sedang istirahat di pinggir lapangan. Apakah Levi masih marah denganku, ya? Ah, bodo amat. Kulihat kursi taman kosong, dan aku langsung duduk di situ. Ternyata sejuk juga duduk di kursi taman di bawah pohon rindang begini. Tak lama kemudian seorang siswa duduk di sampingku, refleks aku menggeserkan badanku.
“Hai Rini…” sapanya ramah.
“Eh. Armand?? Wah, ketemu lagi ya. Hahaha…”
“Gak papa nih? Aku duduk di sini? Entar cowokmu marah lhoo…” kata-katanya, mengingatkanku akan kata-kata yang menggantung tadi di istirahat. Kenapa ya aku enggak boleh deket-deket sama Armand? Memangnya dia pembunuh? Kalo memang berbahaya kan Levi bisa langsung kasi tau aku. Ah, bodo amat.
“Gak papa. Nyantai aja… Oiya, sori ya tadi kata-katanya Levi kalo nusuk. Levi orangnya emosian, jadi ya cepet marah. Hehe”
“Iya.. ga papa kok. Ya wajar aja jalo dia marah. Kan ceweknya gue tabrak tadi. Lo juga gak papa kan?”
“Gue gak papa… Cuma ini sih, lutut gue berhasil loe celakain. Hahaha…” jawabku samabli melihatkan lukaku. Dan ternyata ekspresi Armand di luar dugaan.
“Eh?!!!? Lo ampe luka, Rin! Ya ampun sumpah gue gak enak sama lo. Perlu gue anter ke rumah sakit?” responnya, berhasil membuatku tertawa terbahak-bahak. Lebay amat perasaan.
“Lo parno’ amat, Mand! Bener! Ekspresi muka lo, tuh! Kocak abis!!! Hahahahahah….. mending kalo lo bikin lecet Pak Kumis guru Matematika itu, ekspresi lo baru pas tuh! ” aku kembali tertawa. Armand juga ikut tertawa mendengar kalimatku. Tak terasa aku dan Armand telah berbincang-bincang selama 15 menit, dan aku langsung berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Melihatku jalan tertatih-tatih, Armand menyusulku.
“Loh? Mand?” tanyaku heran.
“Gue masih enggak enak sama lo. Jadi gue mau nganterin lo sampe parkiran.”
☺☺☺☺☺
Biip Biip.
Incoming messege
From : Naura Bawel
Lo ada apa sama Armand?
Hah? Maksudnya apaan nih?
Reply
To : Naura Bawel
Maksud lo?
Tidak butuh 2 menit untuk menunggu si bawel membalas smsku.
From : Naura Bawel
Levi curhat sama gw tdi plg bskt. Dia krumah gw. Dia ngeliat loe br2an sma Armand ktwa-ktwi d bangku tmn tdi. Curhat byk deh. Gw jg heran tumbn dy crhat bnyk gt. Dy ampe blg, ‘gw g mw dy ninggalin gw,Ra. Cuma demi cowo itu.’ gw sbnerny heran knp dy bs blg gt, Rin. Tpi rasanya dy serius bgt ngmongnya.
Wait wait… ini kenapa sih sebenernya ya. gue sama Armand kan gak ada apa-apa. Kok sekarang Levi cemburu gini sih? Apa gara-gara orang yang deketin gue itu Armand yah? Tapi kenapa??? Sekelebat pertanyaan mulai bermunculan di pikiranku, lalu aku berinisiatif untuk menghubungi Levi.
Piip… piip…piip…
……
Wow. Great. Enggak diangkat sama Levi. Sibuk, mungkin?
Kucoba beberapa saat lagi. Mungkin lagi ada urusan.
5 menit.
10 menit.
20 menit.
Wah, rasanya aku tidak pernah menunggu hal yang tidak pasti selama ini. Kesabaranku mulai menipis. Aku mencoba menghubunginya kembali.
Piip…piip…piip…
Tulalit. Di-reject ?!!!?
Levi maunya apa sih? Bikin emosi deh. Sebaiknya aku mengirimkan teks. Mungkin lagi ramai disekitarnya, atau bagaimana.
To: my heart ‘levv’
Levi??!!! Telfonku kok dimatiin?? Kamu kenapa ? aku denger crita dari Naura. aku mnta pnjlsan!
Send.
Menunggu lagi.
7 menit.
10 menit.
15 menit.
25 menit.
Biip Biip.
Incoming messege
From : my heart ‘levv’
JUSTRU AKU YG MW NNYA, “SAYANG” … KM KNP??? SAMA TEMEN DEKET BARUMU ITU…
I have bad feeling.
Reply
To : my heart ‘levv’
Ada yg slah sma Armand, Lev??? Kok km jdi kya gni sih!!??
Send.
Biip Biip.
Incoming messege
From : my heart ‘levv’
Speak 4 ur self!!!!
Aarrghhh!!!
Sialan!
☺☺☺☺☺
“Levi! Tunggu! Aku butuh penjelasan dari kamu! Levi!” napasku tersengal-sengal mengejar laki-laki yang sekarang meragukanku itu. Mengesalkan. Semakin dikejar semakin tancap gas.
Dan akhirnya aku dapat menangkap tangannya.
“Levi! Sekarang jelasin ke aku, kamu sebenernya ada dendam apa sih sama Armand!!?” bentakku kasar.
“Enggak. Enggak ada apa-apa antara aku sama Armand. Bukannya kamu yang ada ‘apa-apa’ sama Armand, ya?” terlihat jelas ia menyinggungku, dengan menekankan kata apa-apa tadi.
“Hei! Aku enggak ada apa-apa kok sama Armand! Aku kemarin cuma…”
“Cuma apa, Rin???!! Cuma apa??? Ketawa-ketawa berdua terdengar sampai tengah-tengah lapangan basket, sampe nganter kamu ke parkiran, itu kamu bilang CUMA ??!!!” aku melihat sendiri kemarahan memuncak hingga ubun-ubunnya. Aku belum pernah melihat Levi semarah ini sebelumnya.
“Levi! Sumpah! Aku enggak ada apa-apa sama Armand! Kemarin itu aku juga gak enak kalau nolak kebaikannya Armand. Lagipula…”
“Alah! Udahlah, Rin… aku mau pulang. Aku ada janji sama seseorang…” selesai ia memutuskan kalimatku begitu, ia langsung melenggang pergi meninggalkanku. Sendiri di keheningan lorong sekolah yang telah ditinggalkan penghuninya 30 menit yang lalu. Aku mulai terhisak, tak berpikir dua kali untuk menghubungi sahabatku yang bawel itu.
“Shit! Gak aktif!! Arrrrgggghhh!!!!!”
Geram, kesal, marah, sedih tergambar jelas di wajahku saat ini. Aku setengah berlari meninggalkan lorong tadi menuju parikiran. Sesaat aku melihat mobil Levi melintas di depan sekolah, melaju kencang ke arah barat. Tidak sendirian. Di kursi penumpang aku melihat sesosok wanita cantik yang benar-benar aku kenal. Sahabatku sendiri. Namun, aku buru-buru menepis pikiran jahat yang berkelebat di otakku. Dengan cekatan aku menancap gas mobilku, berusaha mengejar swift putih tersebut. Berhasil! Aku berusaha menjaga jarak dengannya sekitar tiga mobil, karena kemungkinan besar Armand hafal dengan plat mobilku.
Mobilku melaju mulus mengikuti- atau lebih tepatnya membuntuti- jejak mobil Levi. Sepertinya Levi bertujuan ke mall terbesar di kota ini. Dua menit kemudian, dugaanku benar. Saat menuju parkiran, aku mulai panik karena mobilku dengan mobilnya semakin dekat, dan aku memutuskan untuk memarkir mobilku di luar mall. Aku keluar dan tetap membuntuti Levi dan wanita misterius itu. Aku benar-benar mecoba untuk berpikir jernih saat melihat wanita misterius keluar dari mobil Levi. Namun sepertinya aku tidak bisa. Kuharap aku salah lihat, tapi kenyataan memaksaku untuk mempercayainya.
“Naura… ???”
☺☺☺☺☺
Esok harinya, aku benar-benar tak semangat untuk bersekolah. Aku masih terbayang akan kejadian yang membuatku terhenyak kemarin. Saat bel panjang berbunyi, aku memutuskan untuk kabur ke perpus. Tempatku biasa menenangkan diri jika ada masalah. Namun, saat aku berjalan lunglai menuju perpus, aku melihat Naura dan Levi duduk berdua di kursi taman. Emosi melihatnya, aku langsung berlari ke tempat mereka.
“Gini, ya? Lo berdua di belakang gue?? Ra! Lo tega banget ama gue…” mataku mulai perih. Oh no… please jangan sekarang.
“Rini? Lo salah paham! Gue sama Levi gak ada apa-apa! Suer deh…” jawabnya sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah.
“Alaaah… gak usah suer-sueran deh, Ra! Kemaren gue liat sendiri lo berdua jalan ke mall. Pulang sekolah!” mataku sekarang terasa basah, masih menggenang.
“Rini… kamu kayaknya salah paham deh… masa’ kamu curiga sama sahabat sendiri… aku bisa jelasin kok…” Levi menimpali. Namun aku mengacuhkannya.
“Jelasin apa? Kamu kemarin curiga sama aku, sekarang ternyata kamu yang kayak gini ya! Sama sahabatku sendiri! Kamu tega, Lev!!!” aku mendorong tubuhnya yang sedang menggenggam tanganku. Air mataku tak dapat dibendung lagi. Aku berlari meniggalkan mereka berdua yang masih tercengang akan responku melihat mereka yang aku curigai. Aku benar-benar tidak percaya ini.
Pulang sekolah, dengan mata yang sembab aku berjalan seakan tak ada gairah hidup. Menuju parkiran, seseorang menepuk pundakku.
“Rini???” refleks aku menoleh. Armand orangnya, “Loh, mata lo kenapa? Lo gak papa kan?”
“Eh Armand… gak papa, Mand. Gue ada masalah sama Levi. Ada apa, Mand?” tanyaku datar. Benar-benar datar. Namun saat kutanya begitu, entah mengapa Armand langsung gelagapan.
“Emm.. yakin lo gak mau cerita dulu masalah lo? Mungkin gue ada bisa bantu…” tawarnya halus. Namun aku menolak. Aku langsung menyuruhnya to the point karena aku ingin segera pulang, ingin menghangatkan diri. Namun tiba-tiba tangan Armand meraih kedua tanganku lembut. Aku tersentak kaget. Aku langsung menarik tanganku, tapi genggaman Armand cukup kuat sehingga tanganku masih berada dalam genggaman erat Armand.
“Rin… gue tau elo udah ada yang punya… tapi gue cuma pengen tau aja kalo gue… gue sayang sama lo, Rin. Gue cinta sama loe. Gue gak ngarep apa-apa dari lo, Rin. Seperti yang udah gue bilang tadi gue cuma pengen lo tau gimana perasaan gue ke lo.. itu aja, Rin…” wow. Pernyataan cinta. Namun timingnya kurasa tidak tepat. Hatiku sekarang sedang hancur. Namun tiba-tiba ada suara yang membuatku kaget setengah mati.
“Rini?” saat aku menoleh, refleks aku menarik tanganku dari genggaman Armand. Kulihat rahang Levi mengeras. Dan dengan sigap ia memukul wajah Armand.
“Loe nyari mati, ya? Dari dulu kerjaan lo gini-gini aja!!! Bosen idup??” maki Levi di depan wajah Armand. Dan sekali lagi ia meninju wajah Armand. Aku tak tahan lagi. Aku menarik Levi, dan menyuruh Armand untuk meninggalkan kami berdua. Bertengar hebat. Adu mulut. Tidak ada yang mau mengalah. Saling menyalahkan satu sama lain. Menonjolkan kesalahan-kesalahan yang kami perbuat. Sehingga membuat beberapa siswa yang masih ada kegiatan di sekolah memperhatikan kami yang benar-benar ‘berisik’. Emosi kami benar-benar tidak terkontrol. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk pulang dengan membawa emosi masing-masing ke rumah.
☺☺☺☺☺
Malamnya, tangisku meledak di kamar. Sendirian. Tak ada teman yang bisa diajak curhat. Teman yang selama ini aku percaya, ternyata menusukku dari belakang. Sakit sekali rasanya. Di sela-sela tangisku, terdengar what’s my namenya Rihanna berdendang riang dari HPku.
Naura.
Masih punya nyali dia menelponku? Kuangkat dengan enggan.
“Ada apa lo nelpon malem-malem?” jawabku ketus langsung tanpa say hi padanya, seperti biasanya.
“Rin. Terserah gimana keadaan lo sekarang, loe marah sama gue atau sama Levi. Tapi gue minta tolong banget sama loe kalo lo masih ada hati sama Levi lo dateng skarang ke RS. Harapan Mulya! Ntar gue smsin tempatnya Levi dirawat. Sekarang!” jelas Naura. Membuatku panik, dan segera menyambar jaketku. Sambil membaca sms Naura yang baru masuk.
From : Naura Bawel
Harapan Mulya, UGD bagian barat, sebelah unit pembayaran. Levi kecelakaan d prjlanan mnju rmh lo. Dy mw mnta maaf sma lo. Tabrak lari. Kondisinya prah bgt. Buruan!
Sepanjang perjalanan, aku berulang kali membaca sms Naura. Levi kecelakaan saat perjalanan ke rumahku? Mau minta maaf… tangisku meledak lagi. Aku tetap focus pada perjalanan. Aku mau minta maaf padanya. Aku benar-benar menyesal berburuk sangka padanya, terlebih pada sahabatku sendiri.
Beruntung rumahku tak terlalu jauh dari RS yang ditunjuk. Kira-kira 15 menit, aku sudah sampai di tujuan. Aku langsung memeluk Naura ketika melihatnya menunggu Levi di depan UGD.
“Naura… gue minta maaf sama lo… gue… gue…”
“Ssssttt… uda, Rin… udah… gue juga minta maaf sama lo waktu ini enggak ngejelasin dulu sama loe, sebenernya waktu ini gue sama Levi ke mall itu ngomongin lo. Gue ngeyakinin si Levi kalo lo gak ada apa-apa sama si Armand. Waktu itu juga gue desak si Levi supaya jelasin ke elo alasan kenapa elo gak boleh deket-deket sama Amand. Terus katanya dia nyari waktu yang tepat aja. Aneh-aneh aja anak itu…” aku mendengarkan penjelasan Nauran dengan seksama. Ternyata begitu ceritanya, aku langsung malu kepada sahabatku sendiri. Menuduhnya yang bukan-bukan. Sekali lagi aku berpelukan minta maaf dengannya. Bersamaan dengan itu, dokter dari ruangan tempat Levi dirawat keluar dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan.
“Dok? Gimana keadaan Levi? Ga papa, kan?” aku langsung menghampiri dokter.
“Hmm… keadaan pasien sedang kritis. Sangat kekurangan darah. Kondisinya sangat parah. Namun kami tim dokter berusaha sebaik mungkin. Adik-adik tolong bantu doanya…” terang dokter. Mendengar penjelasan dokter, kepalaku terasa sangat berat. Pandanganku kabur, dan semuanya terlihat gelap….
☺☺☺☺☺
“Rini… bangun, Rin!” seseorang menepuk-nepuk pipiku. Naura. pandanganku masih kabur. Naura terlihat terisak, dan aku baru menyadari aku tadi pingsan setelah mendengar penjelasan dokter.
“Naura…? Kamu kenapa nangis???” tanyaku penasaran.
“Levi, Rin… Levi… Levi udah gak ada… Levi meninggal …. ”
☺☺☺☺☺
Sebulan setelah kepergian Levi. Aku masih belum percaya kalau dia sudah tiada. Seminggu berkabung, rasanya aku sudah tidak ada gairah hidup lagi. Penyemangatku, sudah dipanggil Yang maha Kuasa. Minta maaf pun aku belum dengannya. Itu yang kutangisi jika aku terus mengingatnya. Saat-saat bersamanya, benar-benar kurindukan. Aku masih ingat pertengkaran hebatku dengannya sebelum ia tiada. Akhirnya aku mendapat jawaban dari semua yang aku pertanyakan darinya. Tentang Armand. Dari penuturan Naura yang diceritakan Levi waktu itu, Levi benar-benar menentangku habis-habisan dekat-dekat dengan Armand. Karena Armand teman SMP Levi. Dulu Levi dekat dengan Armand, dan dengan dua temannya yang lain. Namun Armand berbuat yang tidak-tidak. Terpengaruh siapa, Levi juga tidak tahu. Armand mendekati pacar teman dekat Levi dan Armand. Levi sangat terkejut melihat perubahan sikap Armand yang keterlaluan itu. Selain itu, pergaulan Armand sangat melenceng, ia sering bergaul dengan anak-anak pecandu narkoba. Walau Armand bukan pengguna, namun Levi memperkirakan cepat atau lambat Armand akan terpengaruh. Semenjak saat itu, Levi tidak pernah berhubungan lagi dengan Armand. Maka dari itulah Levi sangat protektif jika aku dekat-dekat dengan Armand. Hingga saat ini aku benar-benar menyesal atas kejadian waktu itu. Andai waktu bisa kuputar…
Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Hari ini, aku akan pergi ke pusara Levi, ditemani oleh si bawel. Waktu itu aku habis-habisan minta maaf dengannya. Untung ia mau memaafkanku. Aku berjanji aku tidak akan pernah mencurigai sahabatku sendiri, sekalipun mengenai pasangan sendiri.
“Ayo, Rin! Berangkat. Dari tadi ngeliatin fotonya Levi mulu…”
“Hehe… iya. Kangen.”
“Loh, ayoo…! Kita kan mau jenguk Levi!”
“Oiya ya! Ayo deh brangkat!
-----------------------------------------THE END-------------------------------------------------
oke deh . aku jadi kangen dhyta .. btw ini keren banget ka ! :))
ReplyDelete